إبن إسـمـاعيـل المــهـاجـريـن

Foto saya
Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.

Jumat, 29 Mei 2009

Kutitip Surat Ini Untukmu

Assalamu'alaikum,

Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta'ala yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amin.

Wahai anakku,
Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara. Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka.

Kamis, 21 Mei 2009

Agar Dada Seorang Hamba menjadi Lapang dan Bersinar

Hiruk pikuk kehidupan dengan berbagai bentuk aktivitas yang terus bergulir tanpa henti sering melahirkan halangan dan tantangan yang mengantar seorang hamba kepada gundah gulana dan ketidaktenangan hati. Namun bagi seorang mukmin sejati, cahaya Al-Qur’ân dan Sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam adalah penerang jalan menuju kepada kehidupan indah yang senantiasa membuat dadanya lapang dan bercahaya.

Bolehkah Berkata “Seandainya..”

Oleh Al-Ustadz Abu Haidar As-Sundawi

Salah satu diantara sekian banyak penyimpangan yang dilakukan oleh lisan adalah mengatakan “Seandainya...“ yang digunakan untuk menggugat taqdir atau syariat, atau untuk mengungkapkan kerugian dan penyesalan terhadap apa yang sudah terjadi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:” Mereka (orang-orang munafiq ) berkata:” Seandainya kita memiliki hak campur tangan dalam urusan ini pasti kita tidak akan terbunuh disini.” (QS. Ali Imran: 154). Ini adalah ungkapan seandainya dalam rangka menggugat syariat.

Rabu, 20 Mei 2009

Ilmu Adalah Pemimpin Amal

Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa man tabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin.

Mu’adz bin Jabal –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan,

العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ


“Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.” (Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15)

Minggu, 17 Mei 2009

Terpaan Fitnah Bak Ombak Lautan

Oleh: Abu Mushlih

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Kitab al-Fitan wa Asyrath as-Sa’ah, dari Hudzaifah radhiyallahu’anhu, beliau mengatakan,

Sabtu, 16 Mei 2009

Sanggupkah Aku Menjawabnya?

Penulis: Al-Ustadz Abu Khaulah Zainal Abidin

Sungguh saat itu akan datang sebagaimana telah sering aku saksikan ia mendatangi orang lain, teman-temanku, tetanggaku, bahkan orang tua atau kerabatku.

Sungguh, saat itu tak mungkin kuduga sebagaimana juga mereka tak pernah menduga didatangi oleh nya. Sungguh dia akan menjemput aku pergi ke tempat yang tak mampu aku bayangkan, tempat yang tak pernah kembali lagi mereka yang pergi ke sana, tempat yang di sana aku akan dihadapkan dengan pertanyaan.

Jumat, 15 Mei 2009

Allah Lebih Dekat Daripada Urat Leher

Oleh: Abul Jauzaa'

Tanya: Apa makna dua ayat berikut:

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” [QS. Qaaf: 16]

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ
“Dan Kami lebih dekat dengannya daripada kamu.” [QS. Al-Waqi’ah: 85]

Apakah ini menunjukkan bahwa Allah memang dekat dan “menyatu” dengan diri kita ?

Kamis, 14 Mei 2009

Arti Sebuah Cinta

Oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi

Kita sering mendengar kata yang terdiri dari lima huruf: CINTA. Setiap orang bahkan telah merasakannya, namun sulit untuk mendefinisikannya. Terlebih untuk mengetahui hakikatnya. Berdasarkan hal itu, seseorang dengan gampang bisa keluar dari jeratan hukum syariat ketika bendera cinta diangkat. Seorang pezina dengan gampang tanpa diiringi rasa malu mengatakan, “Kami sama-sama cinta, suka sama suka.” Karena alasan cinta, seorang bapak membiarkan anak-anaknya bergelimang dalam dosa. Dengan alasan cinta pula, seorang suami melepas istrinya hidup bebas tanpa ada ikatan dan tanpa rasa cemburu sedikitpun.